HomeTeladanKeutamaan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu
Keutamaan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam
Keutamaan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Keutamaan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu

Telah menjadi kesepakatan bersama bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan generasi manusia terbaik. Dan setiap Muslim wajib meyakininya dan tidak boleh ragu sedikit pun. Para sahabat inilah yang Allah pilih untuk menyertai dan membantu dakwah NabiNya yang mulia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama dan segenap kaum Muslimin sepakat bahwasanya manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, kemudian Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Penjelasan mengenai sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya (Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq). Dan dengan izin Allah, pada kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan beberapa keutamaan sahabat yang mulia Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Nasab Beliau

Beliau adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riyah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luai, dan nama kunyah beliau adalah Abu Hafsh al-Quraisy al-‘Adawi. (Siyar A’lam an-Nubala, jilid 28, halaman 71)

Beliau dijuluki sebagai al-Faruq, yaitu sang pembeda antara yang haq dengan yang bathil. Beliau merupakan khalifah kedua setelah Abu Bakar ash-Shiddiq. Jasanya sangat besar bagi Islam dan kaum Muslimin.
Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap sahabat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu

Seluruh umat Islam, baik dulu maupun sekarang, semuanya sepakat bahwa manusia terbaik setelah para Nabi dan Abu Bakar adalah Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa:

“Ahlussunnah telah sepakat bahwa yang terbaik di antara mereka (yaitu para sahabat) adalah Abu Bakar kemudian ‘Umar.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim [15/148])

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa:

“Ahlussunnah wal jama’ah telah sepakat terhadap (atsar) yang mutawatir dari sahabat Ali bin Abi Thalib, yang mana beliau mengatakan bahwa, “Yang terbaik dari umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar kemudian ‘Umar.”” (al-Fatawa al-Kubra [3/270])

Setiap Muslim harus meyakini dengan keyakinan yang kuat, bahwa manusia terbaik dari umat ini setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Barangsiapa yang mempunyai keyakinan yang meyelisihi hal ini, atau bahkan mencela dan melaknat Umar, maka bisa dipastikan ia adalah orang yang zindiq, rusak aqidahnya, dan dari kalangan rafidhah (Syi’ah).

Keutamaan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu

1. Salah satu sahabat yang dijamin masuk surga

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِقَصْرٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ؟ قَالُوا: لِشَابٍّ مِنْ قُرَيْشٍ فَظَنَنْتُ أَنِّي أَنَا هُوَ. فَقُلْتُ: وَمَنْ هُوَ؟ فَقَالُوا: عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ

“Ketika aku masuk surga, tiba-tiba aku melihat istana dari emas. Maka aku pun bertanya, “Untuk siapa ini?” Para malaikat pun menjawab, “Untuk seorang pemuda dari suku Quraisy.” Aku pun mengira bahwa itu adalah aku, maka aku bertanya, “Siapa dia?” Para malaikat menjawab, “‘Umar bin Khattab.”” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 1423.)

Dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ. …

“Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga. …” (HR at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Jami ash-Shaghir no. 50.)

2. Mendapatkan pujian langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَ بَعْدِيْ نَبِيٌّ، لَكَانَ عُمَرُ

“Jika seandainya ada Nabi setelahku, maka ia adalah ‘Umar.” (HR at-Tirmidzi, Al-Hakim, Ahmad, dan yang lainnya. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 327.)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ، فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ

“Sungguh dahulu di antara umat sebelum kalian ada beberapa Muhaddatsun (yaitu orang-orang yang diberi ilham / firasat yang benar). Seandainya ada seseorang di antara umatku, maka sesungguhnya dia adalah Umar.” (HR al-Bukhari no. 3486)

3. Laki-laki yang ditakuti oleh setan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى شَيَاطِيْنِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ قَدْ فَرُّوْا مِنْ عُمَرَ

“Sungguh aku melihat setan-setan dari kalangan jin dan manusia lari (kabur) dari Umar.” (HR at-Tirmidzi, hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani di dalam Misykatul Mashabih yang ditahqiq oleh beliau.)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِيْهًا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ

“Wahai ‘Umar bin Al-Khaththab, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah ada satu pun setan yang bertemu denganmu di suatu jalan melainkan dia akan mencari jalan yang lain yang tidak dilalui olehmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

4. Dicintai oleh Allah dan RasulNya serta segenap kaum Muslimin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ، بِأَبِي جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ، أَوْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، يَقُوْلُ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: فَكَانَ أَحَبَّهُمَا إِلَيْهِ عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu di antara kedua orang yang paling Engkau cintai, yaitu Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Al-Khaththab. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dan ternyata yang lebih Allah cintai di antara keduanya adalah Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu.”” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Imam Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.)

Jika Allah dan RasulNya mencintai seseorang, maka bisa dipastikan orang tersebut pasti orang istimewa dan bukan orang yang sembarangan. Dan sahabat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang paling Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai, ini merupakan keutamaan yang agung. Seluruh kaum Muslimin pun tentu saja mencintai ‘Umar bin Khaththab dengan cinta yang dilandasi dengan iman sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai beliau.

Demikianlah beberapa keutamaan sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang bisa kami sampaikan. Tentu saja masih banyak keutamaan yang beliau miliki. Semoga kita bisa meneladani beliau dan semoga Allah mempertemukan kita dengan beliau kelak di surga Allah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang senantiasa mengikuti sunnah-sunnahnya. Aamiin.

Referensi:
Ash-Shahabah, Syaikh Shalih bin Thaha ‘Abdul Wahid
Makanatu ash-Shahabah fil Islam, Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali
Siyar A’lam an-Nubala, Imam adz-Dzahabi
Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
– Dan yang lainnya

Oleh: Muadz Mukhadasin
Artikel: www.muadz.com



*Artikel ini juga dimuat di dalam Buletin Al-Ilmu edisi 24, yang diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Islam Imam Syafi’i, Berau, Kalimantan Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Meneladani Semangat Seorang Kakek Buta - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Meneladani Semangat Seorang Kakek Buta

Syaikh Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafidzahullah ta’ala mengisahkan bahwa: “Di sebuah kampung kecil yang terletak di sebelah timur kota Madinah saya pernah melihat seutas tali yang membentang dari sebuah rumah ke pintu masjid. Maka aku pun bertanya mengenai hal tersebut. Dan dikatakan bahwa rumah itu adalah milik seorang laki-laki tua yang telah kehilangan penglihatannya (buta) dan dia tidak mempunyai pemandu (untuk mengantarnya ke masjid). Maka dari itu, ia menggunakan tali tersebut sepada tiap kali datangnya waktu shalat (berjamaah), untuk bisa (memandunya) pergi ke masjid kemudian kembali lagi kerumahnya.” (Lihatlah bagaimana perjuangan seorang kakek tua yang telah buta namun sangat bersemangat untuk bisa pergi ke masjid dalam rangka menunaikan shalat berjamaah.)* “Bagaimana denganmu wahai para pemuda yang masih mempunyai kesehatan, kekuatan serta penglihatan yang normal?!”