HomeBelajar IslamAqidahSyirik, Dosa Paling Besar dalam Islam
Syirik, Dosa Paling Besar dalam Islam - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam
Syirik, Dosa Paling Besar dalam Islam - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Syirik, Dosa Paling Besar dalam Islam

Setiap muslim tentunya berharap dirinya kelak bisa masuk surga Allah Ta’ala yang penuh dengan kenikmatan. Namun, sangat disayangkan sebagian kaum muslimin belum memahami bahwa syarat agar bisa memasuki surga Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan mengaplikasikan tauhid dalam kehidupannya dan menjauhi sejauh-jauhnya perbuatan syirik.

Dosa Syirik Tidak Akan Diampuni oleh Allah
Syirik merupakan penghalang seseorang untuk masuk surga, bahkan syirik bisa mengakibatkan pelakunya kekal di neraka. Syirik juga merupakan dosa besar yang paling besar dan merupakan bentuk kezaliman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya syirik (mempersekutukan Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Lukman [31]: 13)

Di dalam kitabNya yang mulia, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa dosa syirik tidak akan diampuni olehNya. FirmanNya:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa [4]: 48)

Berkaitan dengan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengampuni seorang hamba yang menghadap kepadaNya dalam keadaan menyekutukan Allah. Dan Allah akan mengampuni dosa-dosa selain syirik dari hamba-hambaNya. (Baca selengkapnya di dalam tafsir Ibnu Katsir, tafsir surat An-Nisa ayat 48)

(Baca Juga: Tauhid sebagai Pelebur Dosa-Dosa)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh menjelaskan bahwa:
“Ayat ini menjelaskan bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar. Hal itu karena Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa syirik bagi pelaku kesyirikan yang tidak bertaubat darinya. Adapun dosa-dosa selain syirik maka itu tergantung dengan kehendak Allah. Jika berkehendak, maka Allah akan mengampuninya tatkala ia bertemu denganNya. Dan jika berkehendak, Allah bisa saja akan mengadzabnya akibat dosa-dosanya tersebut. Maka dari itu, wajib bagi setiap orang untuk benar-benar takut kepada dosa kesyirikan karena hal ini perkaranya di sisi Allah.” (Fathul Majid, cetakan Mu’assasah Qurthubah, hal 101)

Contoh Bentuk Kesyirikan
Bentuk kesyirikan sangatlah banyak, apalagi di zaman sekarang yang mana kebanyakan orang menjauh dari agama yang haq dan terkesan alergi dengan ilmu agama. Banyak juga yang mengaku beragama Islam, namun dalam kesehariannya masih mempercayai dan menggantungkan nasib kepada dukun, zodiak, ramalan-ramalan, meminta-minta kepada kuburan keramat, meminta-minta dan takut kepada yang mereka percayai sebagai penghuni gunung, pantai, jembatan, tidak jarang pula yang masih menjaga tradisi-tradisi nenek moyang yang berbau kesyirikan, dan perbuatan yang lainnya.

Bahaya Dosa Syirik
Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa dosa syirik bisa menghapuskan amalan seseorang dan membuatnya terlarang dari masuk surga apabila ia tidak bertaubat darinya hingga maut menjemputnya, dan tempat kembalinya adalah neraka yang penuh dengan siksa dan kepedihan.

Allah Ta’ala berfirman:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az-Zumar [39]: 65)

Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.” (QS Al-Maidah [5]: 72)

Karena begitu bahayanya dosa syirik, sampai-sampai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa agar anak cucunya tidak melakukan perbuatan syirik. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ آمِناً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”.” (QS Ibrahim [14]: 35)

Sebagai pemimpin orang-orang yang bertauhid, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sangat takut jika anak keturunannya kelak terjatuh kepada perbuatan syirik. Hal itu karena beliau mengetahui bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar yang tidak akan diampuni oleh Allah jika pelakunya tidak bertaubat darinya.

Jika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang merupakan kekasih Allah saja khawatir dan takut terhadap dosa syirik, maka kita harusnya lebih takut dan khawatir dari beliau. Kita harus benar-benar berhati-hati dalam setiap tindakan kita, jangan sampai terjatuh kepada kesyirikan. Apalagi di zaman ini, yang mana terkadang perbuatan kesyirikan menjadi samar karena dibalut dengan acara-acara yang kelihatannya islami. Padahal pada hakikatnya adalah perbuatan syirik, dan pada akhirnya banyak orang yang tertipu dengannya.

Waspadai Juga Syirik Kecil
Perlu diketahui juga bahwasanya yang ditakutkan oleh para nabi itu bukan saja syirik besar, namun juga syirik kecil. Hal ini karena syirik kecil lebih sulit untuk dikenali dan dideteksi. Sering kali pelakunya tidak sadar ketika melakukannya. Dan adanya syirik kecil atau riya dalam amalan kita adalah sebuah tanda tidak akan diterimanya amal yang kita lakukan tersebut. Karena salah satu syarat diterimanya ibadah adalah ibadah tersebut harus ikhlas hanya ditujukan kepada Allah saja, tidak boleh dicampuri dengan riya atau mengharap pujian dari orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil. Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan syirik kecil itu?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab: “Riya”.” (HR Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi. Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahiihah no. 951)

Dari hadis tersebut kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat takut jika syirik kecil (riya) itu menimpa para sahabatnya. Padahal kita ketahui bersama bahwa para sahabat mempunyai keimanan yang kuat dan kesempurnaan dalam beramal. Maka dari itu, kita yang keimanan dan amalannya sangat jauh dari sempurna sudah sepantasnya lebih takut dari para sahabat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dan anak keturunan kita dari segala amcam bentuk kesyirikan yang dapat membinasakan. Dan semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk ke dalam barisan orang-orang yang bertauhid bersama para nabi dan rasul serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Aamiin.

Referensi:
Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh.
Tafsir Ibnu Katsir, Al-Imam Ibnu Katsir.

Artikel ini juga dimuat di dalam Buletin Al-Ilmu yang diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Islam Imam Syafi’i, Berau, Kalimantan Timur.



Penulis: Muadz Mukhadasin
Artikel: www.muadz.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kedudukan Dzikir dan Syukur dalam Islam - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Kedudukan Dzikir dan Syukur dalam Islam

Salah satu faidah yang disampaikan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya al-Fawaid adalah, bahwasanya "Agama Islam itu dibangun di atas dua kaidah, yaitu dzikir dan syukur". Beliau juga membawakan dalil-dalil yang menunjukan bahwa tujuan diciptakannya (segala sesuatu) adalah untuk diingat dan disyukuri, diingat-ingat dan jangan dilupakan, serta disyukuri dan jangan diingkari.