HomeBelajar IslamAqidahKeutamaan Tauhid
Keutamaan Tauhid - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Keutamaan Tauhid

Tauhid memiliki keutamaan yang sangat besar, namun tentu saja tidak semua orang bisa memperoleh keutamaan tersebut. Hanya mereka yang menerapkan tauhid yang murni sajalah yang bisa memperolehnya. Allah memberikan janji berupa pahala yang besar, ampunan dan juga kenikmatan surga bagi siapa saja yang bisa menerapkan tauhid di dalam kehidupannya di dunia ini. Di antara keutamaan tauhid yang dijelaskan oleh para ulama adalah:

1. Tauhid merupakan sebab datangnya rasa ketenangan dan keamanam di dunia dan di akhirat.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُون

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-An’am [6]: 82)

2. Tauhid menyebabkan pemiliknya terhindar dari neraka.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Itban radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan “laa ilaaha illallah”, dan dia berharap wajah Allah dari ucapannya tersebut.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

3. Tauhid menyebabkan seseorang masuk ke dalam surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mati dan ia mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka ia masuk surga.” (HR. Muslim dari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu)

4. Tauhid merupakan sebab terbesar datangnya ampunan dari Allah.

Di dalama hadits qudsi yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika seandainya engkau datang kepadaKu dengan dosa sepenuh bumi, namun engkau menjumpaiKu (mati) dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, maka sungguh Aku akan memberikan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. at-Tirmidzi no. 3540, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah)

5. Tauhid akan menyebabkan seseorang dihilangkan dari segala kesedihan dan kesusahan baik di dunia maupun di akhirat.

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melapangkan berbagai macam kenikmatan, kebaikan dan jalan keluar untuk hamba-hambanya yang bertakwa, karena ketakwaan adalah buah dari tauhid yang ada di dalam hatinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. ath-Thalaq [65]: 2-3)

6. Tauhid merupakan sebab terbesar untuk bisa meraih pahala dan ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang paling beruntung mendapatkan syafaat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mengucapkan kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” secara ikhlas dari dalam hati dan jiwanya. (Lihat shahih al-Bukhari, kitabul ilmi, bab al-hirsh ‘ala al-hadits 1/38 no. 99)

7. Tauhid akan memudahkan seseorang dalam melakukan kebaikan, memudahkan untuk bisa meninggalkan kejelekan dan memudahkan untuk bisa segera melupakan kesedihan/musibah yang pernah menimpanya. Karena orang yang bertauhid secara murni kepada Allah akan senantiasa menjadikan orientasi hidupnya hanya untuk semata-mata mengharapkan pahala dan ridha dariNya. Ketika ditimpa musibah ia akan sabar dan yakin bahwa Allah akan memberikan pahala atas musibah yang menimpanya tersebut. Ia pun akan senantiasa berusaha melawan hawa nafsunya dari berbuat maksiat karena takut terhadap adzab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

8. Jika tauhid tertanam secara sempurna di dalam hati seorang hamba, maka hal itu akan menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala cinta terhadapnya. Keimanannya pun akan terus tumbuh subur dan senantiasa menghiasi hatinya. Dan yang demikian itu akan membuatnya benci terhadap kekufuran, kefasikan, kemaksiatan dan akhirnya dia akan menjadi orang-orang yang senantiasa diberikan petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

9. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjanjikan kemenangan bagi para pemegang bendera tauhid. Dan mereka akan selalu diberikan pertolongan, kemuliaan, kekuatan serta kemudahan di dalam hidupnya.

10. Amalan manusia baik itu yang berupa ucapan ataupun perbuatan, tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala jika tidak didasari dengan tauhid yang kokoh. Jika tauhidnya sudah kokoh dan sempurna maka ia akan beribadah dengan benar dan memurnikan ibadahnya itu hanya untuk Allah ta’ala semata. Dan semakin sempurna tauhid seseorang maka akan semakin sempurna pula pahala yang akan diraihnya.

Demikianlah beberapa keutamaan tauhid yang disebutkan oleh para ulama. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk bisa meraih keutamaan-keutamaan tersebut. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Referensi:
Nur at-Tauhid wa Dzulumat asy-Syirk, Karya DR. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahtani
al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, Karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin
– Dan beberapa sumber yang lainnya.


Yogyakarta, 26 Muharram 1435 H/30 November 2013
Oleh: Mu’adz Mukhadasin
www.muadz.com

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kedudukan Dzikir dan Syukur dalam Islam - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Kedudukan Dzikir dan Syukur dalam Islam

Salah satu faidah yang disampaikan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya al-Fawaid adalah, bahwasanya "Agama Islam itu dibangun di atas dua kaidah, yaitu dzikir dan syukur". Beliau juga membawakan dalil-dalil yang menunjukan bahwa tujuan diciptakannya (segala sesuatu) adalah untuk diingat dan disyukuri, diingat-ingat dan jangan dilupakan, serta disyukuri dan jangan diingkari.