HomeBelajar IslamHadisPenjelasan tentang Hadis Palsu seputar Huru-Hara yang Akan Terjadi di Pertengahan Bulan Ramadan
Penjelasan tentang Hadis Palsu seputar Huru-Hara yang Akan Terjadi di Pertengahan Bulan Ramadan - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam
Penjelasan tentang Hadis Palsu seputar Huru-Hara yang Akan Terjadi di Pertengahan Bulan Ramadan - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Penjelasan tentang Hadis Palsu seputar Huru-Hara yang Akan Terjadi di Pertengahan Bulan Ramadan

Penjelasan Mufti Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Abdul Aziz bin Abudllah bin Baz

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

Telah sampai kepadaku bahwasanya sebagian orang-orang bodoh membagikan informasi yang berisi hadis dusta yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis dusta tersebut isinya adalah:

عن ابن مسعود قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إذا كان صيحة في رمضان، فإنه يكون معمعة في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتسفك الدماء في ذي الحجة والمحرم، وما المحرم؟ يقولها ثلاث مرات، هيهات هيهات يقتل الناس فيه هرجاً هرجاً، قلنا: وما الصيحة يا رسول الله؟ قال: هذه في النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هذه توقظ النائم، وتقعد القائم، وتخرج العواتق من خدورهن في ليلة الجمعة، في سنة كثيرة الزلازل والبرد، فإذا وافق شهر رمضان في تلك السنة ليلة الجمعة، فإذا صليتم الفجر من يوم الجمعة في النصف من رمضان فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم وسدوا كواكم ودثروا أنفسكم، وسدوا آذانكم، فإذا أحسستم بالصيحة فخروا لله سجداً، وقولوا: سبحان القدوس، سبحان القدوس، ربنا القدوس، فإنه من فعل ذلك نجا ومن لم يفعل هلك)

“Dari Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila terdapat suara yang dahsyat di bulan Ramadan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal. Akan banyak golongan manusia yang saling memisahkan diri di bulan Dzulqa’dah. Akan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzulhijjah dan al-Muharram. Apa yang harus dilakukan di bulan al-Muharram?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal tersebut sampai tiga kali. Sangat disayangkan sekali saat itu manusia saling membunuh dan keadaannya sangat kacau.

Maka kami bertanya, “Apa suara dahsyat itu wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab, “Suara itu terjadi di pertengahan bulan Ramadan, bertepatan dengan malam Jumat dan suara dahsyat ini akan membangunkan orang-orang yang sedang tidur, menjatuhkan orang-orang yang sedang berdiri, dan menjadikan para wanita terhempas keluar dari kamar-kamarnya.

Pada saat itu akan banyak terjadi gempa bumi dan cuaca yang sangat dingin. Hal itu apabila (pertengahan) bulan Ramadan di tahun itu bertepatan dengan malam Jumat.

Apabila kalian telah melaksanakan salat Subuh di hari Jumat pada pertengahan bulan Ramadan, maka masuklah kalian ke dalam rumah-rumah kalian, kuncilah pintu-pintu kalian, tutuplah jendela-jendela kalian, selimutilah diri-diri kalian, dan tutuplah telinga-telinga kalian.

Apabila kalian merasa ada suara dahsyat, maka menyungkurlah sujud kepada Allah dan ucapkanlah, “Maha Suci Allah yang Maha Suci, Maha Suci Allah yang Maha Suci, wahai Rabb kami yang Maha Suci.”

Barangsiapa yang mengamalkan hal tersebut maka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengamalkannya, maka niscaya akan celaka.”

Kemudian Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelasakan bahwa:

Hadis tersebut tidak memiliki dasar dari keshahihannya. Bahkan hadis ini batil dan dusta. Betapa banyak tahun-tahun yang telah berlalu dari kaum muslimin yang di dalamnya ada momen dimana malam Jumat bertepatan dengan malam pertengahan bulan Ramadan. Namun, Alhamdulillah tidak pernah terjadi huru-hara sebagaimana yang telah disebutkan para pendusta tersebut baik yang berupa suara dahsyat atau yang lainnya.

Maka dari itu, perlu dicamkan oleh siapa saja yang telah mengetahui penjelasan ini, bahwasanya tidak boleh baginya menyebarkan hadis batil tersebut. Bahkan wajib baginya merobek, membinasakan, dan memperingatkan (orang lain) akan kebatilannya.

Perlu diketahui juga bahwa wajib bagi setiap muslim untuk bertakwa kepada Allah dalam setiap kesempatan dan hendaknya ia berhati-hati dari segala perbuatan yang telah Allah larang baginya hingga ajal menjemputnya. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin.” (QS al-Hijr [15]: 99)

Maksud dari al-yaqin adalah ajal (kematian).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran [3]: 102)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda kepada Muadz radhiyallahu ‘anhu:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah engkau dimanapun engkau berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan tersebut. Dan pergaulilah orang lain dengan akhlak yang mulia.” (HR Ahmad)

Ayat-ayat dan hadis yang berkaitan dengan wajibnya konsisten dalam ketakwaan dan istiqamah dalam kebenaran serta berhati-hati dari segala apa yang telah Allah larang itu berlaku di setiap kesempatan, baik itu di bulan Ramadan maupun di waktu yang lainnya.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kaum muslimin terhadap apa-apa yang diridhaiNya, dan semoga Allah menganugerahi pemahaman yang baik terhadap agama, menolong mereka dan kita semua dari segala macam bentuk bencana serta dari kejelekan da’i-da’i penyeru kesesatan. Sesungguhnya Allah Maha Dermawan dan Maha Mulia.

Semoga shalawat senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, serta para sahabatnya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah merupakan mufti di Kerajaan Saudi Arabia, beliau juga merupakan ketua Hai’ah Kibaril Ulama dan ketua dari Dewan Riset Ilmu dan Fatwa (al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’)

Sumber: https://binbaz.org.sa/old/28453



Penjelasan Ulama yang Lainnya
Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid hafidzahullah juga mengomentari hadis tentang huru-hara dan malapetaka yang konon akan terjadi pada tanggal 15 Ramadan apabila bertepatan dengan hari Jumat, beliau berkata:

هذا الحديث منكر لا يصح، لم يرد بسند مقبول، ولم يثبت من كلام النبي صلى الله عليه وسلم، كما أن الواقع يكذبه ويرده، فقد وافق في أعوام كثيرة سابقة مجيء يوم الجمعة في الخامس عشر من رمضان، ولذلك حكم عليه العلماء بالوضع والكذب

Hadis ini merupakan hadis yang munkar, tidak shahih. Sanadnya pun tidak bisa diterima. Tidak pula ada kepastian berasal dari ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan fakta realitanya juga ternyata tidak membenarkan hal tersebut dan bahkan justru membantahnya. Sungguh hal ini sudah sering kali terjadi di tahun-tahun sebelumnya, yaitu hari Jumat bertepatan dengan tanggal 15 Ramadan (namun hal tersebut tidak terjadi-red). Maka dari itu para ulama menghukumi hadis tersebut palsu dan dusta.

Al-‘Uqailiy rahimahullah berkata:

ليس لهذا الحديث أصل من حديث ثقة، ولا من وجه يثبت

“Hadis ini tidak memiliki dasar yang bisa dipercaya, tidak pula didapati hadis lain yang mendukung (keshahihannya).” (Adh-Dhu’afa al-Kabir 3/52)

Ibnul Jauzi rahimahullah mengomentari hadis ini seraya berkata:

هذا حديث موضوع على رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Hadis ini palsu yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Maudhu’aat 3/191)

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata tentang bahwa hadis tersebut adalah:

موضوع

“Hadis palsu”. (Disebutkan dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah no. 6178-6179)

Sumber: https://islamqa.info/ar/132280



Diterjemahkan secara bebas oleh: Muadz Mukhadasin
Artikel: www.muadz.com

Bogor, 12 Ramadan 1439 / 28 Mei 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Jadilah Kunci Kebaikan! - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Jadilah Kunci Kebaikan!

Di dalam hadits yang mulia yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ “Sesungguhnya ada sebagian manusia yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejelekan, dan ada pula sebagian manusia yang menjadi kunci kejelekan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah bagi siapa saja yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan berada di tangannya, dan celakalah bagi siapa saja yang Allah jadikan kunci-kunci kejelakan berada di tangannya.” (HR. Ibnu Majah no. 237, dan telah dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 194) Pernahkah kita merenungkan dan memperhatikan termasuk kelompok yang manakah kita ini? Apakah kita termasuk ke dalam kelompok manusia yang menjadi kunci kebaikan serta penutup kejelekan bagi diri kita sendiri dan orang lain? Atau justru kita termasuk kelompok yang sebaliknya?