HomeBelajar IslamFiqihMemotong Kuku di Hari Jumat Apakah Termasuk Sunah Nabi?
Memotong Kuku di Hari Jumat Apakah Termasuk Sunah Nabi - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam
Memotong Kuku di Hari Jumat Apakah Termasuk Sunah Nabi - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Memotong Kuku di Hari Jumat Apakah Termasuk Sunah Nabi?

Tidak Ada Dalil yang Shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Saat ditanya, “Apakah dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong kuku beliau setiap hari Jumat? Maka, Syaikh Shalih al-Munajjid hafidzahullah menjawab:

لم يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم شيء في تحديد يوم الجمعة لقص الأظفار، لا من قوله ولا من فعله صلى الله عليه وسلم

“Tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan tentang ketentuan memotong kuku di hari Jumat, baik itu yang berupa perkataan maupun yang berupa perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Dalam pembahasan tentang hukum memotong kuku di hari Jumat, Al-Hafizh As-Sakhawi rahimahullah mengatakan:

لم يثبت في كيفيته ولا في تعيين يوم له عن النبي صلى الله عليه وسلم شيء

“Tidak terdapat riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara dan penentuan hari untuk memotong kuku.” (al-Maqasid al-Hasanah, halaman 422)

Beliau menjelaskan bahwa riwayat yang menyebutkan tentang hal itu derajatnya lemah, munkar, dan palsu.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan (masih membahas bab ini juga) bahwa:

من حديث ابن عباس وعائشة وأنس، أحاديث مرفوعة، ولا تصح أسانيدها

“Terdapat hadis dari Ibnu Abbas, Aisyah, dan juga Anas yang berupa hadis-hadis marfu, namun sanadnya tidak shahih.” (Fathul Bari, 5/359)

Bagi yang ingin meneliti periwayatan tentang hadis ini silakan lihat di “At-Takhlish al-Khabir 2/170″, “as-silsilah adh-dhaifah” karya Syaikh al-Albani, hadis nomor 1112, 1816, 3239.



Ada Contoh dari Sebagian Sahabat dan Tabi’in

Namun, diriwayatkan bahwa sebagian sahabat dan tabi’in mempunyai kebiasaan memotong kuku di hari Jumat.

Imam Baihaqi meriwayatkan dari Nafi’:

أن عبد الله بن عمر كان يقلم أظفاره ويقص شاربه في كل جمعة

“Dahulu Abdullah bin Umar biasa memotong kuku dan memendekkan kumisnya setiap hari Jumat.” (As-Sunan al-Kubro, 3/244)

Al-Hafidz Ibnu Rajab menukilkan di dalam Fathul Bari (5/359) dari Rasyid bin Sa’ad, beliau berkata:

كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقولون: من اغتسل يوم الجمعة، واستاك، وقلم أظفاره، فقد أوجب

“Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa allam berkata:”Barang siapa yang mandi di hari Jumat, bersiwak, dan memotong kuku-kukunya, maka dia pantas mendapatkan pahala”.

Diriwayatkan juga dari ulama salaf dalam bab ini bahwa para ahli fiqih dari kalangan madzhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat tentang dianjurkannya memotong kuku setiap hari Jumat.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

وقد نص الشافعي والأصحاب رحمهم الله على أنه يستحب تقليم الأظفار والأخذ من هذه الشعور يوم الجمعة

“Imam Syafi’i dan para ulama yang bermadzhab Syafi’i -rahimahumullah- dengan tegas (secara nash) berpendapat akan dianjurkannya memotong kuku dan memotong rambut-rambut ini di hari Jumat.” (Al-Maj’mu, 1/340)

Diringkas dari: https://islamqa.info/ar/118891
Alih bahasa: Muadz Mukhadasin
Artikel www.muadz.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bolehkah Puasa Enam Hari Bulan Syawal sebelum Mengqadha Puasa Ramadan - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Bolehkah Puasa Enam Hari Bulan Syawal sebelum Mengqadha Puasa Ramadan?

Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan hafidzahullah pernah ditanya: Wahai Syaikh -semoga Allah memberikan taufiq kepada Anda-, pertanyaan yang banyak ditanyakan, yaitu, apabila seorang wanita memiliki hutang puasa yang banyak di bulan Ramadan, apakah boleh baginya untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal dulu (sebelum melunasi hutang-hutang puasanya-red) agar bulan Syawal tidak terlewat darinya? Beliau menjawab: Tidak boleh, dia wajib menyempurnakan dahulu (hutang puasa) Ramadannya. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian diikuti dengan enam hari Syawal". Dia tidak dianggap berpuasa Ramadan (secara penuh) selama dia masih memiliki hutang puasa di bulan Ramadan.